Jumat, 06 Nov, 2026
kota-tua-padang-berbenah,-khairul-jasmi-ungkap-jejak-sejarah-dan-progres-revitalisasi

Kota Tua Padang Berbenah: Khairul Jasmi Ungkap Jejak Sejarah dan Kemajuan Revitalisasi

Kota Tua Padang Berbenah, Khairul Jasmi Ungkap Jejak Sejarah dan Progres Revitalisasi

Kota Tua Padang Berbenah, Khairul Jasmi Ungkap Jejak Sejarah dan Progres Revitalisasi

Andalas Time, Padang – Pemerintah Kota Padang mulai melakukan revitalisasi kawasan Kota Tua untuk mengembalikan wajah bersejarah kota. Kawasan Pondok dan Muaro menjadi bagian penting dari penataan ini.

Revitalisasi ini bertujuan menghidupkan kembali perhatian pada kawasan yang dulu menjadi pusat perdagangan di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Namun, pelaksanaannya memerlukan pengawasan agar proyek dapat berjalan sesuai jadwal.

Wartawan senior sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi, mengulas sejarah serta perkembangan penataan tersebut melalui tulisan berjudul Klein Nederland te Padang: Kota Tua, Pondok dan Muaro. Tulisan ini diterbitkan di Singgalang.co.id pada Jumat (16/10/2026).

Khairul mengungkapkan bahwa gagasan revitalisasi Kota Tua Padang sudah ada sejak dirinya masih menjadi reporter. Namun, rencana tersebut memerlukan waktu panjang hingga akhirnya mulai diwujudkan sekarang.

“Waktu saya masih reporter rencana revitalisasi kota tua sudah disampaikan. Tapi, Padang yang makin berumur rencana tak juga jadi kenyataan,” tulis Khairul.

Menurut Khairul, kawasan Pondok dan sekitarnya memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan Padang. Berbagai toko, gudang, kantor, dan usaha pernah memenuhi wilayah tersebut.

Catatan sejarah memperkuat gambaran ini. Surat kabar Sumatra-Courant edisi 15 September 1899 memuat iklan sejumlah usaha yang beroperasi di Pondok.

Salah satu di antaranya adalah Chatelin & Co., yang menawarkan obat berbahan kina untuk malaria dan demam. Sementara itu, C. Wattiez mempromosikan jasa penjilidan buku dengan menonjolkan kualitas pekerjaan dan harga yang terjangkau.

Khairul juga merujuk surat kabar Soenting Melajoe edisi 23 November 1912. Koran yang berkaitan dengan jurnalis perempuan pelopor, Ruhana Kudus, tersebut memberitakan perpindahan toko dan percetakan Orang Alam Minangkabau dari Pondok ke kawasan Pulau Air.

Berbagai catatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan pers di kawasan itu telah berkembang sejak masa kolonial. Kegiatan perdagangan bahkan terhubung dengan wilayah pelabuhan dan jalur kereta api.

Peta Padang yang dibuat oleh Topographisch Bureau pada 1885 juga mencatat keberadaan gudang kopi, gudang garam, kantor lelang, dan kas negara. Peta tersebut diterbitkan pada semester pertama 1889.

Penataan Jalan dan Bangunan Bersejarah

Dalam peninjauannya, Khairul menggambarkan pekerjaan revitalisasi yang berlangsung di Jalan Klenteng dan Jalan Muaro. Kedua ruas jalan ini termasuk dalam Paket 4 Jalan Kota Tua.

Pekerjaan tersebut meliputi penataan permukaan jalan dengan menggunakan batu andesit. Kontrak pengerjaan dijadwalkan selesai pada 12 November 2026.

Saat mengamati lokasi, Khairul melihat para pekerja sedang mengupas aspal lama menggunakan ekskavator. Sejumlah bangunan tua masih berdiri di sepanjang jalan dengan kondisi dinding yang mengelupas dan atap yang berkarat.

Khairul juga menyoroti keberadaan kabel listrik dan telepon yang melintang di atas jalan. Rencana penempatan kabel bawah tanah menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki penampilan kawasan.

Namun, ia mengingatkan pemerintah agar menjaga kesinambungan pekerjaan. Khairul tidak ingin penataan kawasan bersejarah tersebut terhenti karena keterbatasan anggaran.

“Jangan terbengkalai pula, Pak Wali,” tulisnya sebagai pengingat pentingnya kelanjutan proyek.

Khairul mengusulkan nama Klein Nederland te Padang untuk kawasan tersebut. Istilah berbahasa Belanda ini menjadi gagasan penamaan yang merujuk pada karakter historis Kota Tua Padang.

Revitalisasi Menjangkau Pasar Raya dan Pantai Padang

Selain Kota Tua, Khairul juga mengulas sejumlah pekerjaan penataan di pusat Kota Padang, meliputi kawasan Pasar Raya dan Pantai Padang.

Di Pasar Raya, pemerintah menata kembali area air mancur dengan membangun taman dan kolam. Pekerjaan ini dijadwalkan selesai pada 28 Desember 2026.

Khairul mencatat progres pekerjaan tersebut mencapai 23,3 persen pada minggu ke-14, masih di bawah target rencana sebesar 30,6 persen.

Pekerjaan lain berlangsung di basement Blok 2 dan 3 Pasar Raya. Penataan meliputi perbaikan lantai, pengecatan, saluran air, serta fasilitas bagi pedagang.

Hingga minggu ke-13, progres pekerjaan basement mencapai 92,75 persen. Proyek ini direncanakan selesai pada 30 Oktober 2026.

Sementara itu, penataan jalan di sekitar Pasar Raya mencakup Jalan Sandang Pangan, Hiligoo, Bundo Kanduang, Pasar Raya, dan Permindo. Khairul mencatat progres baru mencapai 11,22 persen pada minggu ke-13, dibandingkan target 20,54 persen.

Di kawasan Pantai Padang, pemerintah menata taman dan area parkir di Jalan Samudera. Pekerjaan tersebut meliputi pembentukan pelataran, jalur pejalan kaki, serta fasilitas pendukung kawasan pantai.

Progres taman dan parkir mencapai 61,07 persen pada minggu ke-12. Sedangkan pekerjaan trotoar Jalan Samudera dari Simpang Hangtuah hingga Olo Ladang baru mencapai 8,02 persen pada minggu ke-13.

Berbagai pekerjaan ini menunjukkan upaya pemerintah dalam memperbaiki ruang publik sekaligus memperkuat daya tarik kawasan kota.

Khairul menilai penataan fisik perlu diikuti dengan perawatan dan pengelolaan yang konsisten. Kawasan yang sudah diperbaiki membutuhkan pengawasan agar tidak kembali menjadi semrawut.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga Padang sebagai kota dengan sejarah panjang, meskipun menghadapi berbagai tantangan perkotaan.

“Mantunlah Padang, kota yang dilamun-lamun ombak,” tulis Khairul menutup refleksinya tentang kota yang terus bertumbuh di tengah perubahan zaman.

(*)

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Media Informasi Rakyat Terkini dan Terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *